Kamis, April 28, 2016

Hitam atau Putih saja!


Aku tak bergeming dari luka yang mengiring. Tak beranjak dari duri menapak. Tak pula ingin luka kunjung kering. Senantiasa terpana pada secercah warna. Warna yang berubah sekian kali hanya dalam hitungan detik. Bukan pelangi. Bukan Kristal yang memendar-mendar. Bukan hitam legam. Pun tak putih bersih. Hanya samar menggambarkan jiwa yang terombang-ambing likuan jalan. Sederhana! Yang membuatku tak rela berkedip barang sekejap saja. Tidak dengan kasat mata, kalbuku bekerja selayaknya. Samarnya mengarah pada bening air. Seolah mempersilahkanku bercermin pada laku bijak. Jelas saja, bedannya terlalu jelas untuk disembunyikan. Apa lagi yang pantas kurasakan jika bukan merasa bukan siapa-siapa diantaranya.
Sebenarnya, bukan masalah mana yang lebih baik. Hanya saja aku belum siap jika saja ada yang menghardik. Hei…, bahkan belum saatnya seperti itu ketika segala sesuatunya masihlah abu-abu. Tentang tatapan seperti bercerita ketika mata kami bertemu tak sengaja, bukan tentang luka—lebih tepatnya, bercerita akan dirinya. Lagi, senyum yang tak juga kumengerti arti yang mendasari. Dalam sisi lain kulihat beda, hanya untuk mengingatkan diriku tak berharap muluk pada apa yang telah kau tanam di awalnya.
Kau menghitamlah sekali saja, biar kurasa luka sepenuhnya.
Atau, putihlah barang membuktikan kebenaran rasa.

Kamis, Oktober 15, 2015

Kamu



Terlepas dari kenyataan bahwa kamu mendamba gadis lain. Memujanya bukan main. Dan menyimpan rasamu dalam-dalam terhadapnya. Lalu aku bisa apa? Selain berpura-pura (lagi) kalau aku baik-baik saja. Kamu mencintainya, tapi membutuhkanku, sementara aku mencintaimu. Seperti lingkaran setan yang entah titiknya di mulai dari mana dan berakhir dari mana. Seperti rasaku yang tumbuh ketika entah, dan rasamu yang semakin mekar pun hingga entah.
Aku ini yang mendambamu dari pagi sampai pagi lagi.
Aku ini yang dalam paginya memohonkan doa untukmu, demi kebaikanmu.
Aku ini yang malamnya menutup harinya dengan berharap kebahagian mengiringimu.

Kamu itu yang mengkhawatirkan soal sakitnya ia hingga tak enak tidur.
Kamu itu yang ketika bersamanya kau habiskan bercerita soal ia.
Kamu itu yang tak pernah paham aku ini yang mencintaimu.


Minggu, Juni 02, 2013

Teruntuk Jiwa yang tak Pernah Lelah!

Satu:
Kalau bisa dihitung mungkin sudah ada milyaran detik, jutaan menit, ribuan jam, ratusan hari, dan puluhan bulan. Tapi tidak ada satu pun kata bosan. Seharian pun jika aku diberikan waktu untuk menghabiskan hari bersamamu, aku mau tanpa pikir ini itu. Sampai kita kehabisan bahan untuk bicara dan kemudian hanya diam dengan pikiran masing-masing. Saling menoleh dan kemudian mata kita bertemu. Lalu sekitar kita menjadi pudar. Menjadikan kita sepasang, satu-satunya yang terpampang dan sepasang yang hanya diciptakan Tuhan, tidak didahuli Adam Hawa dan tidak akhiri Muhammad dengan istri-istrinya.
Mataku tanpa diatur bisa terfokuskan untuk memperjelas detail wajah tanpanmu, lentik bulu matamu, mata indah, dan bibir tipis yang selalu basah. Lalu sesekali kamu membenarkan rambut dengan senyum kecil menggodaku dan  itu sudah cukup membuatku girang bukan kepalang.
Lalu kita mulai bicara lagi, soal hidup yang kamu lalui di perantauan, asap kendaraan yang menghitam, langit malam yang bahkan tak berhias bintang karena polusi terlalu tebal, pekarangan rumah sewaanmu yang bahkan terlalu sempit untuk parkir sepeda motor. Gadis sekolah yang banyak keluar malam menjadi lampu jalanan, harga makanan yang dua kali lipat lebih mahal, dan bla... bla.. bla… . Tidak ada yang terlewat kamu ceritakan. Seolah-olah kamu sedang melapor kepada bos besar soal uang setoran angkutan.
Keadaan menjadi berubah ketika tanpa sengaja kamu mengucap nama yang membuatku kaku, termangu. Seperti ada yang salah, caramu menceritakan dia, kenapa… kenapa harus seperti itu?
Lalu kamu berlalu dari itu setelah menyadari rautku yang menegang dengan berbagai pertanyaan yang berusaha kukepal agar tak terlontar takut akan membuat ‘reuni’ ini berantakan.
Adzan sudah terdengar, makanan sudah tersedia di meja. Kulirik kamu yang sedang menundukkan kepala dalam-dalam, menyenandungkan doa untuk mulai berbuka. Dengan pelan kamu mengangkat gelas berisi teh manis itu. Terlebih dahulu mencium harumnya, lalu memejamkan mata, mulai menikmati setengguk manis yang mengalir. “Selamat makan.” Ucapmu kemudian yang hanya kubalas dengan senyuman.
Kutarik mundur waktu, mengingat lagi kejadian satu tahun lalu. Ketika aku dan kamu juga dalam keadaan seperti ini. Ramadhan dengan sejuata keberkahannya, senja cantik yang menguning dengan seberkas jingga nampak merona, minuman manis, segala sesuatunya sama seperti sekarang ini. Latar tempat dan plot saja yang berbeda. Tokohnya tak tergantikan oleh figuran, aku dan kamu tetap menjadi aktris termahal untuk sebuah drama romantis ini.
Ada haru yang menyelimuti. Perasaan bangga karena Tuhan masih mengizinkanku menyimpan perasaan hingga setahun kemudian, hingga sekarang ini. Tujuh belas yang tidak pernah ingin kuubah menjadi satu sebagai penanda sebuah awal. Tujuh belas yang juga tidak ingin kuubah menjadi tiga puluh atau tiga puluh satu sebagai penanda akhir. Cukup Sang Penentu yang tahu kapan akan berawal dan berakhir saja.
Kamu sudah terlanjur menjadi bagian dalam darahku yang tidak bisa didonorkan pada si ‘A’, ‘B’, ‘AB’ atau ‘O’. Seperti peran trombosit yang tidak bisa diganti leukosit. Tidak benar-benar ada substisan yang bisa mengganti. Aku juga tidak butuh komplementer untuk melengkapai. Cukup kamu saja. Kamu si konstanta yang setia menjadi pedamping variabelnya.

Dua:
Di ruangan sebelah mana kamu simpan namaku? Apa berada paling depan antara deretan nama lain? tengah? Atau justru terbelakang. Lalu siapa saja nama-nama itu? apa aku mengenalnya? Apa si dia kekasihmu yang dulu yang masih menyisakan semburat suka? Atau teman lama yang datang menyembuhkan luka? Siapapun mereka, aku hanya ingin tahu dimana kamu meletakkan aku yang memerankan banyak tokoh, entah teman, musuh, mantan atau pasangan. Apapun itu aku tak peduli jika hanya ‘status’ yang tak dihargai.
Aku tidak mau pacaran tapi kemudian putus setelah dua minggu jadian. Apa kamu pikir aku juga mau kamu segera melamar. Apa aku perlu berteriak menolak untuk semua itu? aku tidak butuh buru-buru untuk status yang bisa dipajang di Facebook, Twitter, Path, Instagram, apapun itu jejaring sosial yang sering membuat kita kehilangan waktu luang. Aku memilih untuk mengirim surat ke alamat rumahmu dan kemudian menunggu berminggu-minggu untuk membaca balasan suratmu. Bukan sok  menolak globalisasi untuk menutup diri. Tapi menunggu selalu memberikan sensasi untukku terus merindumu.
Aku selalu takut untuk kehilanganmu. Ketika malam pergi dengan pasrah setelah tergusur pagi, aku selalu was-was dan terus cemas, apa kamu baik-baik di sana? Karena telah banyak detik yang kita abadikan menjadi kenangan. Aku hanya tidak ingin apa yang telah kita jalani tak lagi kita temui di hari nanti.
Kamu perlu tahu kalau aku selalu menitipkan mimpi pada angin yang menyejukkan siang. Aku tak pernah meninggalkan harapan dalam doa yang kupanjatkan. Soal keputusan biar Tuhan yang menentukan. Aku pasrah pada akhir yang akan menjadikan kita satu atau justru berjalan ke arah lain. Mengingat deretan nama-nama itu aku sering kali menyerah karena aku tahu aku bukanlah satu-satunya orang yang mengingatkanmu untuk makan. Tapi mungkin aku satu-satunya orang yang selalu membangunkanmu untuk bermunajat di sepertiga malam.
Kamu perlu tahu kalau aku masih ingin, selalu ingin dan akan terus ingin untuk membingkai setiap momen yang kita lewati dengan kamera. Aku ingin di setiap pagimu yang cerah aku adalah orang yang setia bangun pagi untuk membuatkanmu kopi, mengoleskan selai pada roti, menyiapkan handuk untukmu mandi dan kemudian dengan senang hati membantumu mengenakan dasi. Lalu aku akan mengantarkan buah hati kita berangkat sekolah. Ketika siang aku akan memasak olahan kesukaanmu, memijitmu ketika pulang di sore hari dan menyiapkan teh hangat untuk kita minum bersama menjelang senja.
Ada banyak mimpi yang kuangankan tapi tak kuceritakan, tentang rumah yang akan kita bangun setelah kita di sahkan. Asuransi untuk anak-anak kita, tabungan tua, uang hiburan, semua sudah kupikirkan. Sama sekali tak ada yang terlewatkan.
Tapi mimpi tetap mimpi yang hanya kumiliki dan belum tentu Tuhan merestui. Tapi setidaknya aku punya harapan yang bisa membawaku untuk terus berjalan. Entah darimana kudapat keyakinan kuat untuk terus bertahan. Aku tahu, tawa, air mata, dan keringat perjuanganku menanti bahagia memang tak akan sia-sia. Tidak ada yang tahu kapan waktu tepat itu akan berpihak pada aku si pengharap. Bahkan Rolex arloji mahal itu tak menjamin akan bisa menyediakan jam, menit dan detik berharga dalam hidup yang tidak selalu happy ending.

Tiga:
Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk mencintaimu. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Diriku yang terlalu biasa dan bahkan tak istimewa. Tapi, katamu, itu cukup. Dan aku suka, karena aku tak perlu menjadi Angelina Jolie yang berbibir seksi, Kate Middleton yang anggun atau Kim Kadarshian yang punya tubuh aduhai.
Ketika banyak gadis rebut mempersiapkan diri untuk operasi, mengubah hidung biar mancung lah, pinggung biar seksi-lah, aku justru kongko-kongko dan bersikap santai. Karena katamu, aku cukup menjadi diriku. Apakah kamu tahu bagaimana rasanya dianggap karena menjadi diri sendiri? Tidak ada hal yang membahagiakan dari itu. Sungguh.
Aku tidak perlu menabung hingga jutaan rupiah untuk membelikanmu hadiah ulang tahun. Bukankah kamu bilang doa saja lebih dari cukup? Maka aku bersedia bangun di sepertiga malam. Mengkhusukan diri dalam malam yang hening, menengadahkan tangan yang tinggi, dan meminta kepada-Nya agar selalu menjagamu, menjagaku; menjaga kita dalam balutan kasih atas ridho-Nya.
Katamu, mencintai seseorang itu sederhana saja. Toh kita masih punya Sang Penguasa yang akan selalu membantu kita menemukan belahan jiwa. Maka aku mengiyakan, karena bagaimana pun juga, Dia selalu siap menjodohkan Adam Hawa yang memang sudah dituliskan dalam suratan.
Bagiku, mencintaimu itu tidak harus selalu mengajakmu dinner di restoran mahal. Bukankah cukup dengan aku selalu mengingatkanmu untuk makan? Aku juga tidak butuh wisata keliling dunia, duduk berdua di taman kota atau beranda akan menjadi luar biasa jika ada dua pasang mata yang saling memandang lekat tanpa jeda.
Teruntuk jiwa yang telah lama menjadikan jiwaku utuh dan selalu merasa bahagia. Teruntuk raga yang selalu hadir setiap aku butuh bahu untuk bersandar. Maaf untuk aku yang begitu biasa dan juga terima kasih karena selalu membuat kepercayaan diriku berlipat ganda ketika berada di sampingmu. Satu yang perlu kamu tahu, bahwa aku tidak pernah absen merapal namamu dalam barisan doaku, sebelum aku terlelap dalam dunia mimpi, dan bahkan ketika mentari masih malu-malu untuk menampakkan diri. Aku tak menjanjikan apa-apa untuk hubungan kita. Hanya kontribusi kasih sayang yang bisa kupersembahkan. Biar Tuhan yang pada akhirnya mendudukan kita di pelamaninan, sekarang, dua minggu mendatang, bulan depan ataupun setahun kemudian.